Terkuak! Misteri El Dorado, “Kota Emas yang Hilang”

Terkuak! Misteri El Dorado, “Kota Emas yang Hilang”

Terkuak! Misteri El Dorado, “Kota Emas yang Hilang”

Sebuah mitos menuntun para petualang dan pemburu harta rakus berasal dari Eropa menempuh perjalanan panjang menembus hutan, mendaki gunung liar di Amerika Selatan. Bahkan tega membantai masyarakat asli dan memporakporandakan budaya dan juga sistem kepercayaan lokal: El Dorado.

El Dorado konon adalah sebuah kota kaya raya yang terbuat berasal dari emas, lebih-lebih tubuh rajanya diselimuti serbuk emas.

Diawali penjelajahan Columbus di Amerika pada 1492, kisah dunia baru yang kaya logam mulia itu tersebar ke Eropa, menyebabkan lebih banyak penakluk Spanyol berdatangan, ikuti hawa nafsu penaklukan dan mengeruk harta.

Benar, banyak emas ditemukan di sana. Namun, temuan arkeolog baru-baru ini menyebut, semua perjalanan bangsa Eropa menemukan sebuah kota emas, sia-sia. Sebab, El Dorado bukan daerah melainkan orang.

Salah satu dasarnya adalah mitos asli bangsa Amerika Selatan yang menyebut El Dorado sejatinya bukan lokasi melainkan seorang penguasa yang saking kayanya menutup dirinya bersama dengan emas, berasal dari kepala sampai ujung kaki tiap-tiap pagi, dan mencucinya di danau suci tiap malam.

Kisah nyata selanjutnya perlahan dikuak satu-persatu, menggabungkan teks kuno dan riset arkeologi terbaru.

Berakar berasal dari Suku Muisca

“Inti kisah ini adalah ritus upacara yang dikerjakan masyarakat Muisca yang tinggal di kawasan Kolombia Tengah pada tahun 800 Masehi,” kata Dr Jago Cooper, kurator Amerika di British Museum, seperti dimuat BBC, Senin (14/1/2013).

Kisah ini selanjutnya ditulis lagi oleh orang Spanyol di awal abad ke-16, Juan Rodriguez Freyle. Dalam tulisannya, “The Conquest plus Discovery of the New Kingdom of Granada” terbit tahun 1939, Freyle menceritakan, saat pemimpin Muisca meninggal, dipilihlah penggantinya–biasanya kemenakan Laki-laki mendiang.

Melalui sistem inisiasi yang panjang, upacara pelantikan berakhir di sebuah danau suci. Belakangan diketahui, danau itu adalah Danau Guatavita, di Bogota, Kolombia.

Pewaris itu selanjutnya ditelanjangi, tubuhnya ditutupi bersama dengan lumpur dan emas bubuk. “Lalu warga melempar persembahan untuk para dewa, berupa benda bernilai seperti emas, zamrud, dan benda bernilai lain ke danau.”

Kisah ini diperkuat temuan arkeolog yang mengungkapkan keterampilan luar biasa dan skala memproduksi emas di Kolombia pada saat kehadiran bangsa Eropa pada 1537.

Namun, di dalam masyarakat Muisca, emas, perak, dan tembaga dicari, bukan karena nilai materinya, namun lebih untuk alasan relijius. Emas bukan tandanya kemakmuran.

“Untuk rakyat Muisca hari ini, seperti halnya bagi leluhur kami, emas tidak lebih berasal dari sekadar persembahan … emas tidak mewakili simbol kekayaan bagi kami,” kata keturunan Muisca, Enrique Gonzalez.

Menurut arkeolog Roberto Lleras Perez, formalitas orang Muisca tergolong unik. “Tidak tersedia masyarakat lain, sejauh yang aku tahu, mendedikasikan lebih berasal dari 50% memproduksi emas mereka hanya untuk persembahan. Mereka unik,” kata dia.

Sikap itu tidak serupa bersama dengan rakyat Eropa yang menyaksikan emas sebagai simbol kekayaan, termasuk kekuasaan. Pikiran Eropa yang mendengar cerita itu hanya takjub pada betapa banyak emas yang dilemparkan ke danau atau dikubur di daerah suci di semua Kolombia. Bukan pada maknanya.

Menguras Danau

Pada 1537, cerita perihal El Dorado menarik penakluk Spanyol, Jimenez de Quesada dan 800 anak buahnya untuk lakukan misi, menemukan rute darat ke Peru selanjutnya ke kampung halaman Muisca.

Banyak anggotanya yang tewas, namun mereka menemukan keberadaan emas. Yang mengejutkan, bangsa Muisca pakai teknik yang melampaui apa yang pernah diamati mata Eropa. Misi itu dilanjutkan saudaranya, Hernan Perez de Quesada, yang mengeringkan Danau Guatavita bersama dengan ember dan menemukan emas seberat 18 kilogram berasal dari sana.

Pencarian terus dilakukan, lebih-lebih pada 1970-an, jumlah emas yang ditemukan para penjarah saat itu di lokasi Amerika Selatan, dapat mengakibatkan pasar emas dunia kocar-kacir.

Kebanyakan emas jarahan itu, sejak Columbus, udah dilebur. Petunjuk keagungan budaya kuno udah hilang selamanya. Untungnya, tetap tersedia peninggalan yang sukses diselamatkan, yang kini disimpan di Museo del Oro di Bogota dan British Museum di London.

Selain berikan wawasan perihal kebudayaan saat itu, yang paling penting, koleksi bernilai selanjutnya dapat memberikan wawasan baru, menceritakan kisah nyata di balik mitos El Dorado. Ya, sekadar mitos

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*